SEPUTAR
QODHO’ DAN QODAR
- Qodho’ dan qodar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhluqnya, yaitu mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta.
- Imam Ahmad berkata “ Qodar adalah kekuasaan Allah “, karena tak syak lagi bahwa qodar ( taqdir ) termasuk qudroh dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Qodar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorang pun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis dalam Luh Mahfudh, kita tidak tahu taqdir baik atau buruk yang akan menimpa kecuali setelah terjadi.
- Tentang kehendak manusia, ahli sunnah wal jama’ah menempuh jalan tengah antara qodariah dan jabariah, bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam semesta ini ada dua :
- Perbuatan yang dilakukan oleh Allah terhadap makhluq-Nya, dimana tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi maklhluq kecuali menerimanya, seperti turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit , sehat dll.
- Perbuatan yang dilakukan oleh makhluq atas kehendak mereka, karena Allah telah menciptakan kemauan bagi mereka. Sebagaimana firman Allah : “ Bagi siapa diantar kamu yang mau menempuh jalan lurus “ ( at-Takwir : 28 ). “ Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada yang menghendaki akhirat “ ( Ali Imron : 152 ). “ Maka barangsaipa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah dia kafir “ ( al-Kahfi : 29 ). Ketika kita diatas rumah berkeinginan turun dengan tangga ( kemauan kita ) dan kita bisa melakukannya, tetapi kalau terpeleset dan jatuh maka hal itu diluar kemauan kita ).

- Jabariah dan bantahan atasnya :
Mereka ekstrim dalam
menetapkan qodar serta menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluq. Mereka
berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai mempuan dan keinginan,
hanya disetir serta tidak mempunyai pilihan, laksana kapuk ditiup angin
Kalau pendapat
iniditerima, niscaya sia-sialah syari’at ini dari semula, sebab manusia yang
berbuat baik tidak perlu dipuji dan diberi pahala, sebaliknya yang berbuat
jahat tidak perlu dicela dan disiksa, karena semua perbutan tersebut dilakukan
tanpa kehendak dan keinginannya.
Sehingga bila kelak Allah menyisa para pelaku ma’shiat maka hal itu merupakan
suatu kedhaliman, karena perbuatan makshiat tersebut terjadi bukan atas kemauan
dan kehendak mereka.
Hal ini bertentangan
dengan makna firman Allah dalam surah
Qoof : 23 – 29 ) yang intinya menjelaskan bahwa siksaan dari Allah itu
berdasarkan kemahaadilan-Nya, dan Allah sama sekali tidak berbuat kedhaliman
atas hamba-hamba-Nya. Sebab Allah telah memberikan peringatan, mengutus para
rasul, menurunkan kitab suci, menjelaskan jalan yang benar dan sesat, kamedian
mereka memilih kesesatan atas kehendaknya. “ Kami utus mereka sebagai
rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada
alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya para rasul itu. Dan Allah
maha perkasa lagi maha Biajksana” ( An-Nisa’ : 165 )
Pada zaman kholifah
Umar ada seorang yang mencuri,ketika ditanya mengapa mencuri ia menjawab “ Ya
saya mencuri ini karena sudah ditaqdirkan Allah untuk menjadi pencuri “, maka
Umar berkata “ hokum dia dengan cemeti
30 kali lalu ptong tangannya “, cemeti untuk hukuman dustanya atas nama Allah
dan potong tangan untuk hukuman mencurinya “.
- Qodariah dan bantahan atasnya :
Mereka ekstrim dalam
menetapkan kamampuan dan kehendak makhluq, sehingga mereka menolak bahwa apa
yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan ciptaan Allah. Bagi mereka
manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya, bahkan ada yang berpendapat bahwa
Allah tidak mengetahui perbuatan manusia kecuali bila sudah terjadi.
Pendapat ini
bertentangan dengan nash-nash yang menyatakan bahwa kehendak menusia dibawah (
tidak lepas ) dari kehendak Allah. “ Yaitu bagi siapa diantara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus, dan kamu tidak dapat menghendaki ( menempuh jalan
itu ) kecuali bila dikehendaki Allah,
Tuhan semesta alam ( at-Takwir : 28 -29 ). “ Dan Tuhanmu menciptakan apa yang
Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-sekali tidak ada pilihan bagi mereka “ (
al-Qoshash : 68 ).” Allah menyeru ( manusia ) ke Darussalam ( surga ), dan
menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus “ ( Yunus : 25 ).
Qodariah mengingkari
sebagian dari rububuah Allah, bahwa seoalh-olah di alam semesta ini ada sesuatu
yang terjadi diluar kehendak dan ciptaan Allah.
Lantas jalan dan upaya
apa yang yang misti ditempuh manusia bila segala sesuatu telah ditentukan oleh
Allah ( termsuk sesat dan tidak sesat ) ?. Allah menunjuki orang-orang yang
patut mendapat petunjuk, dan menyesatkan orang-orang yang patut mendapat
kesesatan. “ Maka tatkala mereka berpaling ( dari kebenaran ), Allah
memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik
“ ( As-Shaff : 5 ). “ ( tetapi ) karena mereka melanggar janjinya, kami kutuk
mereka dan kami jadikan hati mereka keras membatu, mereka suka merubah
perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian
dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya “ ( al-Maidah : 13 ).
Allah tidak
menyesatkan manusia kecuali disebabkan oleh mereka sendiri, dan manusia tidak
mengetahui taqdirnya kecuali bila sudah terjadi. Maka tidak pantas manusia
melakukan kemaksiatandan kesesatan (
atas pilihannya sendiri ) kemudian ia mengatkan inilah taqdirku ( ia menjadi
seorang jabari ). Mengapa ia tidak berusaha untuk melakukan perbuatan baik dan
kebenaran kemudian menegatakan inilah taqdirku. Mengapa ia menjadi jabari saat
berbuat maksiat dan qodari saat berbuat baik ?.
Dalam sebuah hadist
dari Ibnu Mas’ud diterangkan bahwa sebelum lahir manusia sudah ditetapkan 4
perkara atasnya : rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya serta apakah ia celaka
atau bahagia. Dalam hadist ini jelas sekali bahwa masalah perbuatan, hidayah
sama dengan ilmu dan rizki, semua sudah ditentukan. Kenyataannya meskipun rizki
sudah ditentukan manusia tetap harus
berusaha, bekerja keras untuk mendapatkan rizqi dmikian pula tentang ilmu,
tanpa usaha manusia tidak akan mendapatkan ilmu. Mestinya demikian pula ia
mensikapi perbuatan baik dan buruknya, hidayah dan kesesatannya, meskipun
hidayah dan kesesatan sudah ditentukan tetapi ia berkewajiban untuk berusaha
mendapatkan hidauah dan menghindari kesesatan. Tidak boleh hanya diam pasrah
saja.
Takdir adalah kehendak
Allah yang tersembunyi, tak mungkin kita menegetahuinya kecuali setelah
terjadi. Kalau dihadapan kita terbentang dua jalan yang satu mulus baik, yang
lain sulit dan terjal, mana yang akan kita pilih ?. Di depan kita ada dua jalan
yang satu sesat yang satu benar, mana yang kita pilih ? Kita mengikuti
bimbingan kitab dan nabi, mengikuti akal sehat atau malah didominasi oleh nafsu
?. Ketika Umar bin Khotthab mencegah para shahabat memasuki suatu daerah yang
dilanda penyakit kolera, Abu Ubaidah menyangkal “ Apakah anda hendak lari qodar
Allah wahai amirul mukminin ? “. Umar menjawab “ Saya berharap mestinya bukan
anda yang berkata demikian, Ya saya lari dari taqdir Allah yang satu menuju
taqdir Allah lainnya “.
Disini jelas manusia mempunyai pilihan, keinginan,
usaha namun usahanya, keinginan dan kehendaknya tidak bisa lepas dari kehendak
Allah. Dan kehendak Allah tidak lepas dari sifat keadilan dan
kebijaksanaan-Nya. Bukan kehendak mutlak yang absolute, otoriter, tetapi tetap
sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, dan Allah sekali-sekali tidak berbuat dhalim
terhadap hambaNya.
Salah satu asma Allah
adalah al-hakim, yang Maha Bijaksana. Dengan sifat ini Allah menentukan hidayah
bagi siapa yang dikehendaki-Nya yang menurut pengetahuan-Nya menginginkan
al-haq dan hatinya berada dalam istiqomah. Dan dengan sifat hikmahNya pula, Dia
menetapkan kesesatan bagi siapa yang suka kesesatan dan hatinya tidak suka
dengan Islam. Kecuali bila Allah memperbaiki hatinya dan merubah kehendaknya
karena Allah maha kuasa atas segala sesuatu, Namun sifat hikmahNya menetapkan
bahwa setiap sebab berkaitan erat dengan akibatnya.
- Tingkatan Qodho’ dan Qodar
Qodho’ dan Qodar mempunyai 4
tingkatan :
- Al-Ilm ( pengetahuan ), yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah maha tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi, secara umum maupun terinci, yang sudah maupun akan terjadi, baik itu perbuatan-Nya ataupun makhluq-Nya. Namun sifat mengetahui ini tidaklah berpengaruh sama sekali dengan perbuatan dan kehendak manusia, sifat mengetahui hanya menyingkap sesuatu, bukan untuk memberikan pengaruh pada sesuatu.
- Al-kitabah ( penulisan ), yaitu mengimani bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh mahfudh yang ada di sisiNya. ( al-Hajj : 70 ).
Kalau memang segala sesuatu sudah
ditentukan dalam tulisan lantas apa yang mesti kita lakukan ?, ketika ada
seorang shahbat yang bertanya demikian nabimenjawab “ Berusahalah kalian,
masing-masing akan dimudahkan menurut taqdir yang sudah ditentukan baginya “,
kemudian beliau membaca ayat al-Qur’an “ Adapun orang yang memberikan hartanya
di jalan Allah dan bertaqwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka
Kami akan memudahkan baginya jaalan yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan
merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang baik maka Kami akan
memudahkan baginya jalan yang sukar “ ( al-Lail : 5 – 10 ).
- Al-Masyi’ah ( kehendak ), artinya bahwa segala sesuatu yang terjadi atau tidak terjadi di langit dan dibumi adalah dengan kehendak-Nya, tidak ada yang lepas dari kehendakNya ( at-Takwir : 28 – 29 ). ( al-An’am : 112 ) ( al-Baqoroh : 253 ) dll. Karena itu tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu.
- Al-kholq ( penciptaan ), yaitu mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu, termasuk dalam hal ini adalah perbuatan manusia merupakan ciptaan Allah, karena manusia bisa berbuat sesuatu karena ada dua hal 1. kehendak dan 2. kemampuan. Meskipun perbuatan itu atas kehendak manusia sendiri, tetapi bukankah Allah yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan yang ada pada diri manusia ?. Meskipun demikian hakikatnya manusia itu yang tetap dihukumi berbuat dank arena itu ia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Sebagai Contoh adalah
api yang membakar, api memang mempunyai sifat membakar, namun bukan dirinya
sendiri yang bisa membakar, malinkan Allah yang menjadikannya bisa membakar,
kalau Allah mencabut kemampuan membakarnya maka meskipun menyala ia tidak akan
mampu membakar, seperti kasus pada nabi Ibrohim as.
Allah memberikan
kepada api kemampuan untuk membakar, seperti itu pula Allah memberikan kepada
manusia kehendak dan kemampuan untuk berbuat, bedanya api tidak punya akal,
kehendak sendiri, perasaan dan pilihan karena itu tidak dihisab, sedang manusia
mempunyai kehendak, pilihan, akal fikiran bahkan ada nabi dan kitab suci,
sehingga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
- Penutup.
Seorang mukmin harus
ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, dan termasuk kesempurnaan ridhanya adalah
beriman kepada qodho’ dan qodar Allah, Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu,
ilmu Allah mencakup segala sesuatu, Allah sudah menulis segala yang akan
terjadi,, kehendak Allah meliputi segala sesuatu dan Allah menciptakan segala
Sesutu. Namun ia tetap harus berusaha, memilih yang benar, mencari sebab-sebab,
seraya memhon kepada Allah agar tetap mendapat hidayah dan inayah, karena qodar
dan qodho’ merupakan rahasia ilahi yang
tidak mungkin dia ketahui kecuali setelah terjadi. Allah tidak ditanya terhapat
apa-apa yang Dia lakukan, tetapi manusialah yang dimintai pertanggungjawaban.

Judul: TENTANG QODHO’ DAN QODAR
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Diterbitkan Oleh 00.14
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Diterbitkan Oleh 00.14
Mohon ijin share...!
BalasHapusSemoga bertambah ilmu yg bermanfa'at.